Cara

Cara Membuat Buku Cerita Bergambar untuk Anak

Penulis: Tim Story321Waktu baca 3 menit
Cara Membuat Buku Cerita Bergambar untuk Anak
Daftar Isi

Cara membuat buku cerita bergambar yang mudah diikuti anak dimulai dengan memilih pembacanya. Untuk anak yang belum membaca, buat urutan gambar yang bisa ia ceritakan kembali. Untuk pembaca awal, tambahkan kalimat singkat yang bisa ia baca sendiri. Coba baca contoh halaman bersama anak sebelum menggambar seluruh buku.

Mulai dari kejadian yang bisa diperagakan

Misalnya, Nisa mau menyiram tanaman kelas, tetapi gembornya kosong. Ia mencoba membawa air dengan cangkir kecil, lalu menemukan cara yang lebih praktis bersama temannya. Ajak anak menirukan satu tindakan dari cerita itu. Jika aksinya mudah diperagakan, biasanya lebih mudah juga menentukan gambar untuk halaman tersebut.

Panduan karya Bambang Trimansyah terbitan Badan Bahasa membahas pilihan buku bergambar sesuai kemampuan membaca. Salah satu bentuk yang dapat dikenalkan kepada anak prabaca ialah cerita tanpa kata.

“Buku bergambar nirkata ditujukan untuk pembaca prabaca.”

Sumber — Bambang Trimansyah, Panduan Penulisan Buku Cerita Anak, Badan Bahasa

Uji urutan gambar dengan kartu cerita

Buat sketsa kecil untuk awal, masalah, percobaan, dan hasil. Pada cerita Milo, layang-layang lepas, tersangkut di pohon ek, lalu Rae melepaskan ekornya dan mereka menerbangkannya kembali. Gambar seutas benang di halaman sebelum layang-layang terlihat utuh agar anak punya petunjuk untuk menebak.

Empat adegan layang-layang Milo, dari tali yang lepas hingga Milo dan Rae bermain bersama lagi.

Coba di rumah atau di kelas. Acak sketsa dan minta anak mengurutkannya tanpa mendengar narasi. Jika dua gambar dapat bertukar tempat tanpa mengubah jalan cerita, gabungkan keduanya atau tambahkan petunjuk visual. Setelah itu, pilih satu kalimat untuk dibacakan di setiap halaman yang membutuhkannya.

Beri ruang untuk gambar, suara, dan judul

Jika gambar sudah menunjukkan layang-layang tersangkut, kalimat “Rae, bisa bantu?” menambahkan suara Milo. Saat membuat ilustrasi, catat ciri yang tidak berubah. Syal biru Milo, ekor lebat Rae, dan bentuk layang-layang membuat anak tetap mengenalinya meski gambarnya diambil dari arah berbeda.

Referensi tokoh Milo dan Rae serta bentuk layang-layang merah yang muncul berulang.

Pada sampul, pilih satu gambar yang memancing pertanyaan dan sisakan tempat untuk judul. Di halaman cerita, letakkan teks di bawah gambar jika latarnya ramai. Jika memakai kotak teks di atas gambar, pastikan kotaknya tidak menutup wajah atau benda yang menjadi petunjuk.

Satu ilustrasi dengan teks terpisah di bawahnya, dan versi dengan kotak teks pada gambar.

Teks pada kedua contoh berarti “Layang-layangnya tersangkut di pohon ek!” Contoh kiri memisahkan gambar dan teks, sedangkan contoh kanan memakai kartu teks di atas ilustrasi.

Baca bersama, lalu jadikan buku

Bacakan seluruh purwarupa. Minta anak menunjuk gambar yang paling membantu memahami akhir cerita. Sebelum menjilid di rumah, cek urutan sampul dan halaman serta bagian yang mungkin tertutup lipatan.

Untuk versi digital, buka alat buku cerita bergambar Story321. Pilih “Buku cerita saya”, lalu “Buat buku bergambar”. Di bagian “Mulai kosong”, klik “Buat buku kosong”. Tambahkan tulisan sendiri, unggah ilustrasi tiap halaman, dan siapkan sampul. Setelah meninjau buku, pilih “Unduh PDF” dan periksa kembali urutan dan keterbacaan file. Untuk mencetak lewat percetakan, tanyakan ukuran akhir, area potong, dan ketentuan file sampul terlebih dahulu.

Mulai kreasi berikutnya

Wujudkan ide Anda dengan alat Story321.

Mulai membuat buku cerita